BREAKING NEWS

Jagung Komoditi Strategis Bagi Kedaulatan Pangan


MERDEKA ■ JAKARTA — Komoditas jagung dinilai memiliki peran strategis tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai penopang kedaulatan dan identitas agraris Indonesia. Hal itu disampaikan Agus Kristianto, dalam pemaparannya di lahan pertanian miliknya, Minggu (12/4/2026).

Menurut Agus, jagung (Zea mays) memiliki jejak historis panjang yang bermula dari wilayah selatan Meksiko sekitar 9.000 tahun lalu. Tanaman ini, kata dia, merupakan hasil domestikasi dari rumput liar teosinte melalui proses pemuliaan yang dilakukan masyarakat adat.

“Perjalanan jagung dari tanaman liar menjadi sumber pangan dunia menunjukkan peran penting petani dalam membangun peradaban,” ujar Agus.

Ia menjelaskan, jagung mulai dikenal luas secara global setelah pelayaran Christopher Columbus pada 1492, sebelum akhirnya masuk ke Nusantara pada abad ke-16 melalui jalur perdagangan bangsa Eropa.

Dalam konteks Indonesia, Agus menilai keberadaan jagung tidak dapat dilepaskan dari posisi strategis Nusantara sebagai kawasan persilangan dunia. Sejak masa lampau, wilayah ini menjadi pusat pertukaran komoditas, termasuk tanaman pangan.

“Pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi juga menyangkut posisi tawar dalam rantai distribusi global,” katanya.

Ia menambahkan, petani di Nusantara tidak hanya berperan sebagai penerima komoditas dari luar, melainkan juga sebagai pihak yang mengadaptasi dan mengembangkan tanaman sesuai kondisi lokal.

Lebih lanjut, Agus menekankan bahwa praktik pertanian di Indonesia memiliki dimensi budaya yang kuat, seperti nilai gotong royong dan keberlanjutan. Dalam pandangannya, hal tersebut sejalan dengan prinsip Marhaenisme yang menempatkan petani sebagai subjek utama dalam sistem ekonomi nasional.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan potensi krisis pangan, Agus mengingatkan pentingnya mengurangi ketergantungan pada impor. Menurut dia, ketahanan pangan menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga kedaulatan negara.

“Negara yang tidak mandiri secara pangan akan rentan terhadap tekanan global,” ujarnya.

Agus juga merujuk pandangan sejarawan Denys Lombard yang menyebut istilah “jagung” berasal dari “jawa agung”, sebagai indikasi kuatnya keterkaitan antara komoditas ini dan identitas lokal.

Ia mendorong pendekatan pertanian yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan strategi modern guna memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global.

“Upaya memperkuat sektor pertanian harus dimulai dari tingkat petani sebagai aktor utama,” kata Agus. (*)