AKBP Ir. Untung Sangadji Calon Kuat Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat
Font Terkecil
Font Terbesar
MERDEKA ■ SBB — Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) seakan berjalan di tempat. Pembangunan tersendat, nelayan mengeluh, nasib tenaga honorer tak kunjung jelas, listrik masih padam bergilir, persoalan sertifikat tanah tak tuntas, hingga tokoh agama yang hanya dihormati saat wafat, namun kurang diperhatikan semasa hidup.
Masyarakat mungkin tampak diam, namun kegelisahan itu nyata.
"Kami butuh pemimpin yang sudah terbukti, bukan yang baru belajar," ujar Gerard Wakano kepada sejumlah media di SBB, pagi ini.
Di tengah situasi tersebut, satu nama mulai menguat dari percakapan warung kopi hingga grup WhatsApp warga, baik di kampung maupun perantauan: AKBP Ir. Untung Sangadji.
Menurut Wakano, sosok Untung Sangadji bukanlah figur asing. Ia dikenal sebagai mantan Kapolres yang pernah bertugas di Aceh dan Merauke, seorang insinyur, sekaligus pemimpin lapangan yang telah teruji dalam berbagai kondisi sulit.
"Beliau bukan hanya pernah memimpin, tapi juga membangun. Pengalamannya nyata, bukan sekadar teori," tegas Wakano.
Kabar kepulangan Untung Sangadji ke kampung halaman untuk mencalonkan diri sebagai Bupati SBB pun langsung memantik respons luas. Masyarakat tidak sekadar menunggu, mereka aktif mencari kepastian.
Melalui sambungan telepon yang kerap terputus akibat keterbatasan jaringan di wilayah timur, Wakano mengaku sempat berbincang langsung dengan Untung Sangadji.
Ia menggambarkan sosok tersebut bukan sebagai politikus retoris, melainkan teknokrat-birokrat yang memahami persoalan daerah secara rinci.
"Beliau memaparkan 17 rencana final. Bukan konsep mentah, bukan janji kampanye. Setiap poin jelas: ada logika, lokasi, bahkan pelaksana. Ini kerja yang sudah dipetakan," ungkapnya.
Dalam perbincangan itu, Untung Sangadji juga menegaskan komitmennya:
"Saya tidak ingin masyarakat hanya percaya pada kata-kata. Saya ingin mereka melihat bukti dari apa yang sudah saya lakukan."
Rekam jejak itulah yang kini menjadi perhatian masyarakat SBB. Saat menjabat di Aceh, Untung Sangadji tidak hanya fokus pada keamanan pasca-konflik, tetapi juga mendorong pembangunan ekonomi. Ia merintis program pengalengan hasil laut, pelatihan keterampilan bagi masyarakat pesisir, hingga pemanfaatan aliran sungai untuk pembangkit listrik skala kecil.
Hasilnya, masyarakat di sejumlah wilayah mulai merasakan perubahan: lapangan kerja terbuka, listrik menjangkau desa terpencil, dan kepastian bagi tenaga honorer semakin jelas.
Pengalaman serupa juga berlanjut saat ia bertugas di Merauke, Papua Selatan. Di wilayah dengan karakteristik mirip SBB,kaya sumber daya namun terbatas infrastrukturUntung Sangadji menjalankan program perikanan modern, pendampingan petani, serta percepatan sertifikasi tanah bagi masyarakat adat.
"Banyak programnya masih berjalan dan dirasakan manfaatnya hingga hari ini," tambah Wakano.
Menurutnya, keberhasilan di Aceh dan Merauke menjadi indikator penting. Kedua wilayah tersebut memiliki kompleksitas tinggi, mulai dari konflik, keterisolasian geografis, hingga keterbatasan anggaran.
"Kalau di sana beliau bisa, maka di SBB, yang merupakan kampung halamannya sendiri, justru akan lebih cepat. Beliau sudah mengenal wilayah dan masyarakatnya," ujarnya.
Kini, perhatian publik tertuju pada 17 rencana yang disebut sebagai “kunci perubahan” bagi SBB, yang akan diuraikan lebih lanjut dalam seri berikutnya.
Yang jelas, bagi sebagian masyarakat, Untung Sangadji bukan sekadar calon kepala daerah. Ia dipandang sebagai figur pekerja dan eksekutor yang pulang kampung membawa pengalaman, perencanaan matang, serta tekad untuk membangun.
Seorang tokoh masyarakat SBB yang turut dalam wawancara tersebut menyampaikan harapan yang tegas:
"Kami tidak butuh pemimpin yang hanya pandai berpidato dan hadir di acara seremonial. Kami butuh pemimpin yang sudah pernah membangun di tempat yang lebih sulit. Pak Untung adalah jawabannya."
Kini, pilihan ada di tangan masyarakat SBB. Apakah akan kembali pada pola lama yang stagnan, atau memberikan kepercayaan kepada putra daerah yang telah membuktikan karyanya di luar, dan kini kembali untuk membangun tanah kelahirannya.
"SBB sudah terlalu lama menunggu. Mungkin, ini saatnya perubahan itu benar-benar dimulai, tutup Wakano. (Gusti)
